BERANDA

Thursday, September 28, 2017

Contoh kata pengantar

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur ke hadirat Allah SWT sayapersembahkan, karena hanya dengan bimbingan dan petunjuk-Nya Makalah Permasalahan Pendidikan Pesantren ini dapat terselesaikan.
Proses  pembentukan pendidikan pesantren sebagai lembaga yang berubah-ubah tersebut tidak hanya terjadi sebagai upaya untuk menjajarkan pesantren dengan lembaga pendidikan lain yang berada di tanah air, tetapi juga untuk menyelaraskan dirinya dengan lembaga pendidikan Islam sejenis yang tumbuh dan berkembang di negeri-negeri Islam. Semua itu tidak terlepas dari sebuah perubahan kurikulum dan metode pengajarannya.
Dalam makalah ini materi disusun secara urut dan bertahap, sehingga mahasiswa dapat dengan mudah memahami isi-isi materi yang telah disusun. Adapun materi yang telah dibahas dan disusun adalah makalah hasil diskusi kami. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat menambah wawasan tentang permasalahan pendidikan pesantren, sehingga akan lebih menunjang mahasiswa untuk mengetahui bagaimana permasalahan pendidikan pesantren. Dan semoga bermanfaat bagi semua yang terlibat dalam penyelesaian makalah ini, dengan iringan do’a semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan kepada kita sehingga kita dapat melaksanakan sesuatu menurut jalan-Nya. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.


                                                                           Yogyakarta, 03 Mei 2014

                                                                                       Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..............................................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................
A.    Latar Belakang...............................................................................................
B.     Rumusan Masalah..........................................................................................
C.     Tujuan............................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................
A.    Pengetian Pendidikan Pesantren..........................................................
B.     Metode Pendidikan Pesantren.......................................................................
C.     Kurikulum dalam Pendidikan Pesantren........................................................
BAB III PENUTUP..................................................................................................
A.    Simpulan .......................................................................................................




BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan adalah salah satu cara yang dianggap paling efektif untuk mencapai segala tujuan kehidupan. Salah satu sistem pendidikan yang terkemuka di Indonesia adalah pondok pesantren. Pondok pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan yang diakui oleh masyarakat, dengan sistem asrama dimana santri-santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah.
Di dalam sejarah Pendidikan Nasional, pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang sangat besar pengaruh dan peranannya dalam pendidikan moral bangsa. Sebagai lembaga tafaqquh fi al-din yaitu lembaga pendidikan yang memberikan pengajaran dan pendidikan ilmu-ilmu atau syari’at agama Islam, pesantren hingga sekarang mempunyai daya tarik tersendiri, baik dari sosok luarnya, kehidupan sehari-harinya, potensi dirinya, isi pendidikannya, sistem dan metodenya, semua menarik untuk dikaji.
Pesantren tumbuh dari bawah, atas kehendak masyarakat yang terdiri atas: kiai, santri, dan masyarakat sekitar termasuk, dan terkadang perangkat desa. Diantara mereka, kiai memiliki peran paling dominan dalam mewujudkan sekaligus mengembangkannya. Akhirnya, pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam paling otonom yang tidak bisa diintervensi pihak-pihak-pihak luar kecuali atas izin kiai.




B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud pendidikan pesantren?
2.      Bagaimana metode pendidikan pesantren?
3.      Bagaimana kurikulum dalam pendidikan pesantren?
C.     Tujuan
1.      Mengetahui pendidikan pesantren.
2.      Mengetahui metode pendidikan pesantren.
3.      Mengetahui kurikulum dalam pendidikan pesantren.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pendidikan Pesantren
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh pendidik untuk mengubah tingkah laku manusia, baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan manusia tersebut melalui proses pengajaran dan proses pelatihan.[1]
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua yang berfungsi sebagai salah satu benteng pertahanan umat islam, pusat dakwah dan pusat pengembangan masyarakat muslim di Indonesia. Istilah pondok pesantren pertama kali dikenal di Jawa, di Aceh dikenal dengan rangkah dan dayah, di Sumatra Barat dengan surau.[2]
Beberapa tokoh berpendapat mengenai pengertian pesantren antara lain yaitu, menurut A. H. Johns, kata santri berasal dari bahasa Tamil yang berarti guru ngaji. Sedangkan C.C. Berg berpendapat bahwa santri berasal dari bahasa India, yaitu: “shastri” yang berarti buku suci, buku-buku agama tentang pengetahuan. Kata pondok berarti rumah atau tempat tinggal sederhana yang terbuat dari bambu. Disamping itu kata pondok juga mujngkin juga berasal dari bahasa Arab, “funduq” yang berarti hotel atau asrama. Sedangkan pesantren menurutpengertian dasarnya adalah tempat belajar para santri,dengan demikian, perkataan pesantren adalah berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri.[3]
Pendapat di atas diperkuat dengan pendapat Soegarda Poerbakawatja yang menjelaskan bahwa pesantren berasal dari kata santri, yaitu seorang yang belajar agama islam, sehingga pesantren dapat disimpulkan sebagai tempat berkumpulnya untuk belajar agama Islam. Sedangkan menurut Manfred Ziemek asal etimologi pesantren adalah pe-santri-an, “tempat santri”.[4]

v  Jenis-Jenis Pondok Pesantren
Menurut Prof. Dr. H.M Ridlwan Nasir, M.A. ada lima klasifikasi pondok pesantren yaitu:
1.      Pondok pesantren salaf/klasik yaitu pondok pesantren yang didalamnya terdapat sistem pendidikan salaf (weton dan sorogan), dan sistem klasikal (madrasah) salaf.
2.      Pondok pesantren semi berkembang yaitu pondok pesantren yang didalamnya terdapat sistem pendidikan salaf (weton dan sorogan), dan sistem klasikal (madrasah) swasta dengan kurikulum 90% agama dan 10% umum.
3.      Pondok pesantren berkembang yaitu pondok pesantren seperti semi berkembang, hanya saja sudah lebih bervariasi dalam bidang kurikukulumnya, yakni 70% agama dan 30% umum. Disamping itu juga diselenggarakan madrasah SKB Tiga Menteri dengan penambahan diniyah.
4.      Pondok pesantren khalaf/modern yaitu pondok pesantren yang hamper sama dengan pondok pesantren berkembang, hanya saja sudah lebih lengkap lembaga pendidikan yang ada di dalamnya, antara lain diselenggarakannya sistem sekolah umum dengan penambahan diniyah (praktek membaca kitab salaf), perguruan tinggi (baik umum maupun agama), bentuk koperasi dilengkapi denga takhasus (bahasa Arab dan Inggris)
5.      Pondok pesantren ideal yaitu sebagaimana bentuk pondok pesantren modern hanya saja lembaga pendidikan yang ada lebih lengkap, terutama bidang keterampilan yang meliputi pertanian, teknik, perikanan, perbankan dan benar-benar memperhatikan kualitasnya dengan tidak menggeser ciri khusus kepesantrenannya yang masih relevan dengan kebutuhan masyarakat/ perkembangan zaman. Dengan adanya bentuk tersebut diharapkan para alumni pondok pesantren benar-benar berpredikat khalifah fil ardli.
Pondok pesantren yang ideal adalah pondok pesantren yang mampu mengantisipasi adanya pendapat yang mengatakan bahwa alumni pondok pesantren tidak berkualitas. Oleh sebab itu, sasaran yang diperbaruhi adalah mental, yakni mental manusia dibangun hendaknya diganti dengan mental membangun.
Adapun ciri-ciri mental membangun adalah:
1)      Sikap terbuka, kritis, suka menyelidiki, bukan mentalitas mudah menerima tradisi, takhayul atau otoritas modern sekalipun, di samping itu juga mjau dikritik.
2)      Melihat kedepan.
3)      Lebih sabar, teliti dan lebih tahan bekerja.
4)      Mempunyai inisiatif dalam memperguanakan metode baru.
5)      Bersedia bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang loebih modern, misalnya koperasi, perbankan, dan lainnya.[5]
Dengan memperbaharui mental ini, maka berakibat pembaharuan kurikulum pondok pesantren. Karena sampai saat ini, sebagian sistem pendidikan dan pengajaran pondok pesantren lebih banyak ditekankan pada agama, mental dan intelek. Pendidikan yang berhubungan dengan keterampilan kerja tangan belum mendapat perhatian. Oleh sebab itu, perlu adanya peningkatan dalam memberikan pelajaran-pelajaran yang menimbulkan keterampilan kerja tangan sehingga dapat melahirkan teanga-tenaga produsen, bukan tenaga-tenaga konsumen.
Akibat dari mengesampingkan keterampilan kerja tangan dan hanya mengutamakan pendidikan dan pengajaran mental dan intelek, maka pendidikan menimbulokan hal-hal berikut:
a)      Menimbulkan intelektualisme, membanggakan kecerdasan intelek, dan kurang menghargai kerja tangan yang dianggap sebagai kerja kasar, karena mengotori tangan.
b)      Menimbulkan priyayi-isme yakni keinginan untuk menjadi pegawai, dan enggan untuk bekerja sendiri.
c)      Terlalu mementingkan ijazah, sehingga kadang-kadang berusaha untuk memperoleh ijazah d3engan jalan tidak wajar.
d)     Dan untuk menjadi pegawai negeri, sehingga madrasah dalam pondok pesantren minta “diakui” dan “disamakan” atau dinegerikan. Itulah semangat “etatisme”, bahwa segala sesuatu itu harus diatur oleh pemerintah, juga bidang pendidikan.[6]

v  Tujuan Pesantren
Tujuan umum dari pesantren dilihat dari segi otonominya adalah untuk melatih para santri memiliki kemampuan mandiri.sedangkan dari sudut keterpaduan aspek perilaku dan intelektual adalah membentuk kepribadian ,memantapkan akhlak dan melengkapinya dengan pengetahuan.
     Sekarang ini tujuan dari pesantren sudah diperluas,yaitu untuk mendidik para santri agar kelak dapat mengembangkan dirinya menjaddi”ulama intelektual” (ulama yang mengetahui pengetahuan umum) dan “intelektual ulama”(sarjan dalam bidang pengetahuan umum yang juga menguasai pengetahuan islam.
     Adapun tujuan khusus pesantren ialah sebagai berikut:
a)      Mendidik santri anggota masyarakat untuk menjadi seorang muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT ,berakhlak mulia,memiliki kecerdasan ,keterampilan,sehat lahir batin sebagai warga negNegarang berpancasila,
b)      Mendidik santri untuk menjadikan manusia muslim selaku kader-kader ulama dan mubaligh yang berjiwa ikhlas tabah dan mengamalkan sejarah islam secara utuh dan dinamis
c)      Mendidik santri untuk memperoleh kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusioa-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya dan bertanggung jawab kepada pembangunan bangsa dan Negara.
d)     Mendidik tenaga-tenaga penyuluh pembangunan mikro(keluarga) dan regional(masyarakat lingkungannya)
e)      Mendidik santri aagar menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam berbagai sector pembangunan ,khususnya pembangunan mental-spiritual.
f)       Mendididk santri untuk membantu menngkatkan kesejahteraan sosial masyarakat lingkungan dalam rangka usaha pembangunan masyarakat bangsa.
Tujuan yang dimiliki pesantren tidak dirumuskan secara tertulis ,namun hanya ada dalam angan-angan.hal ini dikarenakan pengaruh budaya yang berkembang dipesantren diman kegiatan menulis(terutama menulis ilmiah) belum menjadi tradisi dikalangan kyai ,ustad maupun santri .[7]
B.     Metode Pembelajaran Di Pondok Pesantren
Metode pembelajaran di pondok pesantren erat kaitannya dengan tipologi  pondok pesantren sebagaimana yang di tuangkan dalam ciri-ciri pondok pesantren sebagaimana yang telah di utarakan terlebih dahulu. Berangkat dari pemikiran dan kondisi pondok pesantren yang ada, maka ada beberapa metode pembelajaran pondok pesantren yang dapat di kemukakan di sini.
a.       Metode Pembelajaran Yang Bersifat Teradisional
Pemahaman yang bersifat teradisional adalah kebalikan dari metode yang modern. Metode tradisional , adalah berangkat dari pola pembelajaran yang sangat sederhana dan sejak semula timbulnya, yakni pola pembelajaran sorongan, bandongan dan wetonan dalam mengkaji kitab-kitab agama yang di tulis oleh para ulama zaman abad pertengahan dankitab-kitab itu di kenal dengan istilah ”kitab kuning”
1)      Sorongan
Dalam metode ini, santri yang pandai mengajukan sebuah kitab kepada kyai untuk dibaca di hadapan kyai. Metode sorongan ini terutama dilakuakan oleh santri-santri khusus yang memiliki kepandaian lebih. Di sinilah seorang santri bisa dilihat kemahirannya dalam membaca kitab dan menafsirkannya atau sebaliknya.
2)      Wetonan
Metode pembelajaran dengan wetonan dilaksanakan dengan jalan kyai membaca suatu kitab dalam waktu tertentu dan santri dengan membawa kitab yang sama mendengarkan dan menyimak bacaan kyai. Dalam metode semacam ini tidak dikenal absensinya. Artinya, santri boleh datang boleh tidak, juga tidak ada ujian.
3)      Bandongan
Metode pembelajaran yang serangkai dengan metode sorongan dan watonan adalah bandongan yang dilakuakan saling kait mengait dengan yang sebelumnya. Metode bandongan, seorang santri tidak harus menunjukkan bahwa ia mengerti pelajaran yang sedang di hadapi. Para kyai biasanya membaca dan menterjemahkan kata-kata yang mudah.
4)      Muhawarah
Muhawarah adalah suatu kegiatan becakap –cakap dengan bahasa arab yang diwajibkan pesantren kepada para santri selama mereka tinggal di pondok. Di beberapa pesantren, latihan muhawarah atau muhadathah tidak diwajibkan setiap hari, akan tetapi hanya satu hari atau dua hari dalam seminggu,  yang di gabungkan dengan latihan muhadharah khithabah, yang tujuannya adalah melatih para santri berpidato.
5)      Mudhakarah
Mudhakarah merupakan suatu pertemuan ilmiah yang secara sepesipik membahas masalah spesifik membahas masalah diniyah, seperti ibadah dan akidah serta masalah-masalah agama pada umumnya. Pada saat mudhakarah inilah para santri menguji keterampilannya mengutip sumber-sumber argumentasi dalam kitab-kitab klasik.Mereka dinilai kyai cukupm atang untuk menggali sumber-sumber referensi.
6)      Majelis Ta’lim
Majelis ta’lim adalah suatu media penyampaian ajaran islam yang bersifat umum dan terbuka. Para jama’ah terdiri dari beberapa lapisan yang memiliki latar belakang pengetahuan yang bermacam-macam, dan tidak dibatasi oleh tingkatan usia maupun perbedaan kelamin.
b.      Metode Pembelajaran Yang Bersifat Modren
Di dalam perkembangannya, pondok pesantren tidaklah semata-mata tumbuh atas pola lama yang bersifat teradisional dengan keenam metode pembelajaran di atas, melainkan di lakukan suatu inovasi dalam pengembanagan suatu sistem. Di samping metode tradisional yang termasuk ciri pondok-pondok salafiyah, maka gerakan khalafiyah telah memasuki tahap perkembangan pondok pesantren. Ada beberapa metode pembelajaran modern yang di terapkandisini, antara lain:
1)      Kelasikal
Metode pembelajaran dengan cara kelasikal adalah dengan pendirian sekolah-sekolah, baik kelompok yang mengelola pengajaran agama maupun ilmu yang dimaksudkan dalam kategori umum, dalam arti termasuk di dalamdisiplin ilmu-ilmu kauni (“ijtihadi”= hasil perolehan manusia) yang berada dengan agama yang sifatnya tauqifi (dalam arti kata langsung ditetapkan bentuk dan wujud ajarannya).
2)      Kursus-Kursus
Metode pembelajaran yang ditempuh melalui kursus (“takasus”) ini di tekankan pada pengembangan keterampilan berbahasa inggris, disamping itu diadakan keterampilan yang menjurus kepada terbinanya kemampuan psikomotorik seperti kursus menjahit, komputer, sablon, dan keterampilan lainnya.
3)      Pelatihan
Di samping metode pembelajaran klasikal dankursus-kursus, dilaksanakan juga metode pelatihan yang menekankan pada kemampuan psikomotorik. Pola pelatihan yang dikembangkan adalah termasuk menumbuhkan kemampuan praktis seperti: pelatihan pertukangan, perkebunan, prikanan, manajemen koperasi dan kerajinan-kerajinan yang mendukung terciptanya kemandirian integrative. Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan lain, yang cenderung lahirnya santri intlek dan ulama yang mumpuni.
4)      Karya Wisata
Metode Karyawisata adalah metode pembelajaran yang dilaksanakan dengan jalan mengajak anak didik keluar kelas untuk dapat memperlihatkan hal-hal atau peristiwa yang ada hubungannya dengan pelajaran.
5)      Eksperimen
Metode eksperimen adalah suatu metode pembelajaran yang melibatkan murid untuk melakukan percobaan-percobaan pada mata pelajaran tertentu.

6)      Sosiodrama
Metode sosiodrama adalah suatu metode pembelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada murid untuk melakukan kegiatan memainkan peran tertentu seperti terdapat dalam kehidupan masyarakat (sosial).

7)      Simulasi
Metode simulasi menekankan pada kemampuan siswa untuk dapat berimitasi sesuai dengan obyek yang diperankan. Dalam metode ini siswa diharapkan mampu mendapatkan kecakapan dalam bersikap dan bertindak sesuai dengan situasi sebenarnya.

8)      Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok adalah penyajian materi dengan cara pembagian tugas-tugas untuk mempelajari suatu keadaan kelompok belajar yang sudah ditentukan dalam rangka mencapai tujuan.
Wujud sistem pendidikan terpadu pondok pesantren terletak pada tiga komponen dasar yaitu:
1.      Belajar, yakni mempelajari jenis-jenis ilmu, baik yang berkaitan dengan ilmu umum dan titik tekannya dengan ilmu yang berkaitan dengan masalah-masalah ajaran agama, yang pada akhirnya dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkungan masyarakat atau warga pesantren di dalam pondok pesantren.
2.      Pembinaan, yang dilakukan dalam masjid sebagai wadah pengisian rohani.
3.      Praktek, maksudnya mempraktekkan segala jenis ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperoleh selama belajar, dan adanya pembinaan yang dilakukan dalam masjid memungkinkan mereka untuk memanifestasikannya dalam pondok.[8]

C.     Kurikulum Pendidikan Pesantren
Menurut KH. Ahmad Siddiq “kurikulum adalah segala sesuatu yang menyangkut keseluruhan usaha dan kegiatan, bahkan penciptaan suasana yang favourible menuju tercapainya tujuan pendidikan”. Dengan demikian kurikulum pesantren adalah yang terlengkap, karena bisa berlangsung selama 24 jam, dan tidak seperti kurikulum sekolah yang terbatas pada beberapa jam sekolah saja, setelah itu kurikulum tidak berfungsi lagi.
Apabila ditinjau dari mata pelajaran yang diberikan secara formal oleh pengasuh atau kyai, maka pelajaran yang diberikan yang dianggap sebagai kurikulum adalah berkisar pada ilmu pengetahuan agama dan segala vaknya. Yang diutamakan adalah pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan bahasa Arab (ilmu al-saraf, al-nahwu, dan ‘ilm al-‘alat yang lain) dan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan syari’at (‘ilm al-fiqh, baik yang menyangkut bagian mu’amalatnya). Ilmu-ilmu yang berhubungan dengan al-Qur’an serta tafsiran-tafsirannya, al-Hadits beserta mustalah al-hadits, begitu juga mengenai ‘ilm al-kalam, al-tawhid, dan sebagainya, yang termasuk pelajaran yang sudah tinggi. Begitu pula pengajaran tentang mantiq (logika), tarikh dan tasawuf.
Menurut abdurrahman Wahid, kurikulum yang berkembang di pesantren selama ini memperlihatkan suatu pola tetap. Pola tersebut dapat diringkas ke dalam pokok-pokok sebagai berikut:
1.      Kurikulum itu ditunjukkan untuk mencetak ulama dikemudian hari.
2.      Struktur dasar kurikulum itu adalah pengajaran pengetahuan agama dalam segenap tingkatannya dan pemberian pendidikan dalam bentuk bimbingan kepada santri secara pribadi oleh kyai/gurunya.
3.      Secara keseluruhan, kurikulum bersifat lentur/fleksibel, dalam artian, setiap santri berkesempatan menyusun sendiri kurikulum sepenuhnya atau sebagian sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya.
Untuk mempolakan pesantren dari segi kurikulumnya, dapat dipolakan seperti uraian berikut:
a)      Pola I, materi pelajaran di pesantren ini adalah mata pelajaran agama yang bersumber dari kitab-kitab klasik. Metode penyampaiannya adalah wetonan dan sorogan, tidak memakai sistem klasikal. Santri dinilai dan diukur berdasarkan kitab yang mereka baca. Mata pelajaran umum tidak diajarkan, tidak mementingkan ijazah sebagai alat untuk mencari kerja. Yang paling dipentingkan adalah pendalaman ilmu-ilmu agama semata-mata melalui kitab-kitab klasik.
b)      Pola II, pola ini hampir sama dengan pola I, hanya saja pada pola II, proses belajar mengajar dilaksanakan secara klasikal, juga diberikan materi keterampilan dan pendidikan berorganisasi. Pada tingkat tertentu, diberikan sedikit pengetahuan umum. Santri telah dibagi jenjang pendidikan mulai dari ibtidaiyah, tsanawiyah, dan aliyah. Metode yang digunakan adalah wetonan, sorogan, hafalan, dan musyawarah.
c)      Pola III, pada pola ini materi pelajaran telah dilengkapi dengan mata pelajaran umum, dan ditambah pula dengan memberikan aneka macam pendidikan lainnya, seperti keterampilan, kepramukaan, olahraga, kesenian, dan pendidikan berorganisasi, dan sebagian telah melaksanakan program pengembangan masyarakat.
d)     Pola IV, pola ini menitikberatkan pelajaran keterampilan di samping pelajaran agama. Keterampilan ditujukan untuk bekal kehidupan bagi seorang santri setelah tamat dari pesantren ini. Keterampilan yang diajarkan adalah pertanian, pertukangan, peternakan dan lain-lain.
e)      Pola V, pada pola ini materi yang diajarkan di pesantren adalah sebagai berikut:
1.      Pengajaran kitab-kitab klasik.
2.      Madrasah, di pesantren ini diadakan pendidikan dengan model madrasah, selain mengajarkan mata pelajaran agama, juga mengajarkan pelajaran umum. Kurikulum madrasah pondok pesantren dapat dibagi menjadi dua bagian, pertama, kurikulum yang dibuat oleh pondok sendiri dan kedua, kurikulum pemerintah dengan memodifikasi materi pelajaran agama.
3.      Keterampilan juga diajarkan dengan berbagai kegiatan keterampilan.
4.      Sekolah umum, materi pelajaran umum berpedoman pada  kurikulum Departemen Pendidikan Nasional. Sedangkan mata pelajaran agama disusun oleh pondok sendiri.
5.      Perguruan tinggi.
Dari uraian diatas dapat diambil pemahaman bahwa konsep kurikulum yang dipergunakan dalam pondok pesantren tidak hanya mengacu pada pengertian kurikulum sebagai materi semata, melainkan jauh lebih luas dari itu, yakni menyangkut keseluruhan pengalaman belajar santri yang masih berada dalam lingkup koordinasi pondok pesantren. Termasuk di dalamnya sistem pendidikan dan pengajaran yang berlaku di pesantren, yang barangkali masih perlu adanya rekonstruksi untuk dihadapkan pada tuntutan masyarakat, sehingga misi dan cita-cita pondok pesantren untuk bisa berperan serta dalam pembangunan masyarakat bisa terealisir dengan baik dan maksimal, lebih-lebih dalam otonomi daerah saat ini.[9]













BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana yang dilakukan oleh pendidik untuk mengubah tingkah laku manusia, baik secara individu maupun kelompok untuk mendewasakan manusia tersebut melalui proses pengajaran dan proses pelatihan.
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua yang berfungsi sebagai salah satu benteng pertahananumat islam, pusat dakwah dan pusat pengembangan masyarakat muslim di Indonesia.
Jenis-Jenis Pondok Pesantren yaitu Pondok pesantren salaf/klasik, Pondok pesantren semi berkembang, Pondok pesantren berkembang, Pondok pesantren khalaf/modern, dan Pondok pesantren ideal.
Tujuan dari pesantren adalah untuk melatih para santri memiliki kemampuan mandiri, membentuk kepribadian, memantapkan akhlak dan melengkapinya dengan pengetahuan.
Metode pembelajaran di pondok pesantren yaitu metode pembelajaran yang bersifat teradisional dan  metode pembelajaran yang bersifat moderen.
Metode pembelajaran yang bersifat tradisional diantaranya Sorongan, Wetonan, Bandongan, Muhawarah, Mudhakarah, dan Majelis Ta’lim. Sedangkan metode yang bersifat moderen diantaranya Klasikal, Kursus-Kursus, Pelatihan, Karya Wisata, Eksperimen, Sosiodrama, Simulasi, dan Kerja Kelompok.
kurikulum adalah segala sesuatu yang menyangkut keseluruhan usaha dan kegiatan, bahkan penciptaan suasana yang favourible menuju tercapainya tujuan pendidikan. Dengan demikian kurikulum pesantren adalah yang terlengkap, karena bisa berlangsung selama 24 jam, dan tidak seperti kurikulum sekolah yang terbatas pada beberapa jam sekolah saja, setelah itu kurikulum tidak berfungsi lagi.






[1] Muhammad Irham,dkk,Psikologi Pendidikan,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm 19.
[2] Anin Nurhayati, Kurikulum Inovasi Telaah terhadap Pengembangan Kurikulum Pendidikan Pesantren, (Yogyakarta: Teras, 2010), hlm. 47.
[3] Ibid, hlm. 47-48.
[4] Ibid, hlm. 48.
[5] Ridlwan Nasir, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 87-88.
[6] Ibid, hlm 89
[7] Martin van bruinessen ,NU Tradisi  relasi-relasi kuas pencarian wacana baru,terj.LKiS ,(Yogyakarta :LKiS ,1994),h 185
[8] [8] Anin Nurhayati, Kurikulum Inovasi Telaah terhadap Pengembangan Kurikulum Pendidikan Pesantren, (Yogyakarta: Teras, 2010), hlm. 54-63.
[9] Ibid, hlm 63-68.

No comments:

Post a Comment